Senin, 08 Agustus 2011

Sejarah Kerajaan Kutai

a. Kehidupan politik
Kerajaan Kutai terletak di dekat Sungai Mahakam, Kalimantan Timur.
Keberadaan kerajaan ini dapat diketahui
dari tujuh buah prasasti (Yupa) yang
ditemukan di Muarakaman, tepi Sungai
Mahakam. Prasasti yang berbentuk yupa
itu menggunakan huruf Pallawa dan bahasa
Sanskerta. Menurut para ahli, diperkirakan
kerajaan Kutai dipengaruhi oleh kerajaan
Hindu di India Selatan. Perkiraan itu
didasarkan dengan membandingkan huruf
di Yupa dengan prasasti-prasasti di India.
Dari bentuk hurufnya, prasasti itu diperkirakan
berasal dari abad ke-5 M. Apabila
dibandingkan dengan prasasti di Tarumanegara,
maka bentuk huruf di kerajaan
Kutai jauh lebih tua.
Berdasarkan salah satu isi prasasti Yupa,
kita dapat mengetahui nama-nama raja yang
pernah memerintah di Kutai, yaitu Kundungga,
Aswawarman dan Mulawarman. Prasasti
tersebut adalah:
“Srinatah sri-narendrasya, kundungasya
mahatmanah, putro svavarmmo
vikhyatah, vansakartta yathansuman,
Tasya putra mahatmanah, tryas traya
ivagnayah, tesn traynam prvrah, tapobala-
damanvitah, sri mulavarmma
rajendro,yastva bahusuvarunakam,
tasya yjnasya yupo ‘yam, dvijendarais
samprakalpitah.
(Sang maharaja Kundungga, yang amat
mulia, mempunyai putra yang masyhur
, sang Aswawarman yang seperti ansuman,
sang Aswawarman mempunyai tiga putra
yang seperti api yang suci. Yang paling
terkemuka ialah sang Mulawarman, raja yang berperadaban baik, kuat,
dan kuasa. Dia melaksanakan selamatan dengan emas yang banyak. Untuk
itulah Tugu batu ini didirikan)
b. Kehidupan ekonomi
Kehidupan ekonomi di kerajaan Kutai tergambar dalam salah satu prasasti,
yang isinya, seperti berikut ini.
(Tugu ini ditulis untuk (peringatan) dua (perkara) yang telah
disedekahkan oleh sang Mulawarman yakni segunung minyak, dengan
lampu dan malai bunga)
Dari Isi Yupa di atas, kita dapat menemukan beberapa benda yang
disedekahkan yaitu minyak, lampu, dan malai bunga. Sedekah dari raja kepada
Brahmana pasti dalam jumlah yang besar. Untuk itu, diperlukan jumlah minyak,
lampu dan malai bunga yang banyak. Benda-benda itu didapatkan dalam
jumlah yang banyak jika ada upaya untuk memperbanyaknya. Adanya minyak
dan bunga malai, kita dapat menyimpulkan bahwa sudah ada usaha dalam
bidang pertanian yang dilakukan oleh masyarakat Kutai. Sementara itu, lampulampu
tersebut dihasilkan dari usaha dibidang kerajinan dan pertukangan.
Hal ini menunjukkan bahwa kedua bidang usaha tersebut sudah berkembang
di lingkungan masyarakat Kutai.
Begitu pula pada prasasti yang lain, berisikan sebagai berikut.
Mulawarman, raja yang mulia dan terkemuka telah memberi sedekah
20.000 ekor sapi kepada para Brahmana yang seperti api. Bertempat
didalam tanah yang sangat suci Waprakeswara, buat peringatan
akan kebaikan didirikan Tugu ini)
Kehidupan ekonomi yang dapat disimpulkan dari prasasti tersebut adalah
keberadaan sapi yang dipersembahkan oleh Raja Mulawarman kepada Brahmana.
Keberadaan sapi menunjukkan adanya usaha peternakan yang dilakukan oleh
rakyat Kutai. Arca-arca yang ditemukan oleh para arkeolog menunjukkan
bahwa arca tersebut bukan berasal dari Kalimantan, tetapi berasal dari India.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa sudah ada hubungan antara Kutai
dan India, terutama hubungan dagang.
c. Kehidupan sosial-budaya
Pada Yupa diketemukan sebuah nama yaitu Kundungga yang tidak dikenal
dalam bahasa India. Dengan demikian, dapat ditarik kesimpulan bahwa nama
tersebut merupakan nama asli daerah tersebut. Namun masih dalam yupa
yang sama dijelaskan bahwa Kundungga mempunyai anak yang bernama
Aswawarman yang mempunyai putra pula bernama Mulawarman. Dua nama
terakhir merupakan nama yang mengandung unsur India, berbeda dengan
nama Kundungga. Baik Kundungga, Aswawarman maupun Mulawarman
merupakan raja-raja di Kutai, namun dari nama mereka dapat menunjukkan
bahwa pengaruh Hindu pada keluarga kerajaan itu sudah mulai masuk pada
masa Kundungga, meskipun baru menguat pada masa Aswawarman.
Bukti kebudayaan Hindu sudah mulai masuk pada masa Kundungga dapat
dibuktikan dengan diberikannya nama Hindu kepada anaknya. Namun pendapat
itu bisa saja tidak tepat, jika Aswawarman yang mengganti namanya sendiri,
dan bukan oleh ayahnya melalui upacara vrtyastoma. Vrtyastoma adalah
upacara penyucian diri dalam agama Hindu. Upacara vrtyastoma digunakan
oleh orang-orang Indonesia yang terkena pengaruh Hindu untuk masuk ke
dalam kasta tertentu sesuai dengan kedudukan asalnya, dan setelah upacara
ini diadakan, biasanya disusul dengan pergantian nama.
d. Kepercayaan
Berdasarkan isi prasasti itu pula dapat diketahui bahwa masyarakat di
Kerajaan Kutai memeluk agama Hindu. Hal itu dapat dilihat dari prasasti
yang menyebutkan tempat suci yaitu Waprakeswara, yaitu tempat suci yang
dihubungkan dengan Dewa Wisnu. Dengan demikian, kita dapat menyimpulkan
bahwa agama Hindu merupakan kepercayaan yang dianut oleh masyarakat Kutai. Agama yang dianut di Kutai yaitu agama Hindu aliran pemuja Siwa
yang diduga berasal dari India Selatan, dengan bukti adanya huruf Pallawa
yang digunakan di India Selatan, serta penggunaan nama Warman yang merupakan
kebiasaan dari India Selatan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar