Selasa, 02 Agustus 2011

Organisasi Gerakan Pemuda Indonesia

Gerakan pemuda Indonesia, sebenarnya telah dimulai sejak berdirinya BU,
namun sejak kongresnya yang pertama perannya telah diambil oleh golongan
tua (kaum priayi dan pegawai negeri) sehingga para pemuda kecewa dan keluar
dari organisasi tersebut. Baru beberapa tahun kemudian, tepatnya pada tanggal
7 Maret 1915 di Batavia berdiri Trikoro Dharmo oleh R. Satiman Wiryosanjoyo,
Kadarman, dan Sunardi. Trikoro Dharmo yang diketui oleh R. Satiman Wiryosanjoyo
merupakan oeganisasi pemuda yang pertama yang anggotanya terdiri
atas para siswa sekolah menengah berasal dari Jawa dan Madura. Trikoro
Dharmo, artinya tiga tujuan mulia, yakni sakti, budi, dan bakti. Tujuan perkumpulan
ini adalah sebagai berikut:
1) mempererat tali persaudaraan antar siswa-siswi bumi putra pada sekolah
menengah dan perguruan kejuruan;
2) menambah pengetahuan umum bagi para anggotanya;
3) membangkitkan dan mempertajam peranan untuk segala bahasa dan
budaya.
Tujuan tersebut sebenarnya baru merupakan tujuan perantara. Adapun
tujuan yang sebenarnya adalah seperti apa yang termuat dalam majalah Trikoro
Dharmo yakni mencapai Jawa raya dengan jalan memperkokoh rasa persatuan
antara pemuda-pemuda Jawa, Sunda, Madura, Bali, dan Lombok.
Oleh karena sifatnya yang masih Jawa sentris maka para pemuda di luar
Jawa (tidak berbudaya Jawa) kurang senang. Untuk menghindari perpecahan,
pada kongresnya di Solo pada tanggal 12 Juni 1918 namanya diubah menjadi
Jong Java (Pemuda Jawa). Sesuai dengan anggaran dasarnya, Jong Java ini
bertujuan untuk mendidik para anggotanya supaya kelak dapat menyumbangkan
tenaganya untuk membangun Jawa raya dengan jalan mempererat persatuan,
menambah pengetahuan, dan rasa cinta pada budaya sendiri.
Sejalan dengan munculnya Jong Java, pemuda-pemuda di daerah lain juga
membentuk organisasi-organisasi, seperti Jong Sumatra Bond, Pasundan, Jong
Minahasa, Jong Ambon, Jong Selebes, Jong Batak, Pemuda Kaum Betawi,
Sekar Rukun, Timorees Verbond, dan lain-lain. Pada dasarnya semua organisasi
itu masih bersifat kedaerahan, tetapi semuanya mempunyai cita-cita ke arah
kemajuan Indonesia, khususnya memajukan budaya dan daerah masing-masing.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar